Rabu, 29 Oktober 2025

Aries Yasin Yang membumi.Fajar Kearifan Di Langit Merah Tamalanrea

 






    Keberhasilan Aries Yasin mempertahankan disertasinya tentang relasi aktor agribisnis bawang merah di Enrekang patut diapresiasi. Karyanya tidak hanya bernilai akademis, tetapi juga menyoroti masalah mendasar dalam kebijakan pertanian kita: fokus yang berlebihan pada produksi, sementara mengabaikan relasi sosial yang justru menjadi jantung persoalan.

Selama ini, pembangunan pertanian di Indonesia sering kali hanya dilihat dari sudut pandang teknokratis. Pemerintah sibuk dengan program peningkatan produksi, efisiensi, dan modernisasi teknologi. Padahal, penelitian Aries yasin dengan pendekatan analisis wacana kritisnya menunjukkan bahwa pertanian adalah ekosistem kompleks tempat kekuasaan, kepentingan, dan bahasa saling bersinggungan.

Yang mengejutkan, temuan Aries Yasin mengungkap bahwa 89% keberhasilan agribisnis bawang merah di Enrekang justru ditentukan oleh kualitas relasi antaraktor mulai dari pemerintah, petani, pedagang, hingga lembaga keuangan. Sementara faktor eksternal seperti cuaca, teknologi, atau kebijakan nasional hanya menyumbang 11%.

Artinya, keberhasilan sektor pertanian tidak hanya bergantung pada bibit unggul atau pupuk subsidi, tetapi lebih pada kekuatan jaringan dan kolaborasi antar pelaku. Sayangnya, dalam struktur ini, petani sering kali berada di posisi paling lemah. Mereka memiliki pengetahuan lokal yang kaya, namun minim pengakuan dan akses terhadap sumber daya.

Menurut Teun A. Van Dijk, bahasa tidak pernah netral,ia bisa menjadi alat kekuasaan. Di Enrekang, kita melihat bagaimana setiap aktor memiliki bahasanya sendiri mulai dari 

· Pemerintah bicara "efisiensi dan produktivitas"

· Pedagang besar menekankan "stabilitas harga"

· Sementara petani berjuang untuk "keadilan harga" dan "akses sumber daya"

Namun, suara petani kerap tenggelm dalam hiruk-pikuk wacana aktor yang lebih berkuasa. Akibatnya, kebijakan yang lahir lebih sering mencerminkan kepentingan kelompok dominan, bukan kebutuhan petani di lapangan.

 Lalu, bagaimana seharusnya? Aries Yasin dalam penelitian disertasinya merekomendasikan pendekatan kebijakan yang partisipatif dan relasional. Beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan:

1. Forum multipihak yang setara, tempat petani, pedagang, akademisi, dan pemerintah duduk sejajar merumuskan kebijakan

2. Partisipasi yang bermakna, di mana suara petani benar-benar didengar dan mempengaruhi keputusan

3. Penguatan kelembagaan petani melalui koperasi modern dan Badan Usaha Milik Petani (BUMP)

4. Sistem harga yang transparan dan akses pembiayaan yang inklusif

 Tanpa perubahan struktur ini, upaya peningkatan produksi hanya akan memperparah ketimpangan yang sudah ada.

 

Pesan utama dari penelitian Aries yasin sangat jelas, pertanian bukan sekadar urusan teknis menanam dan panen, melainkan tentang keadilan sosial dan distribusi kekuasaan. Selama petani hanya diposisikan sebagai pelaksana kebijakan, kesejahteraan mereka akan tetap menjadi impian.Pemerintah perlu melihat petani sebagai mitra strategis pembangunan—pelaku utama yang paling memahami dinamika lapangan. Mereka bukan objek bantuan, tetapi subjek perubahan.Ketika relasi sosial dibangun secara setara dan kebijakan disusun secara partisipatif, yang tumbuh bukan hanya hasil panen, tetapi juga harga diri dan martabat petani.

 

Pada akhirnya, membangun pertanian yang berkelanjutan berarti menanam dua hal sekaligus: bibit di tanah, dan keadilan dalam kebijakan. 🌾.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"Keadilan yang Tak Terlihat" vs. Realitas Anggaran: Mengupas Polemik Besaran Upah PPPK Paruh Waktu di Enrekang

Media sosial dan kanal berita online Enrekang beberapa hari terakhir dihebohkan dengan publikasi besaran upah Pegawai Pemerintah dengan Perj...