Rabu, 29 Oktober 2025

Aries Yasin Yang membumi.Fajar Kearifan Di Langit Merah Tamalanrea

 






    Keberhasilan Aries Yasin mempertahankan disertasinya tentang relasi aktor agribisnis bawang merah di Enrekang patut diapresiasi. Karyanya tidak hanya bernilai akademis, tetapi juga menyoroti masalah mendasar dalam kebijakan pertanian kita: fokus yang berlebihan pada produksi, sementara mengabaikan relasi sosial yang justru menjadi jantung persoalan.

Selama ini, pembangunan pertanian di Indonesia sering kali hanya dilihat dari sudut pandang teknokratis. Pemerintah sibuk dengan program peningkatan produksi, efisiensi, dan modernisasi teknologi. Padahal, penelitian Aries yasin dengan pendekatan analisis wacana kritisnya menunjukkan bahwa pertanian adalah ekosistem kompleks tempat kekuasaan, kepentingan, dan bahasa saling bersinggungan.

Yang mengejutkan, temuan Aries Yasin mengungkap bahwa 89% keberhasilan agribisnis bawang merah di Enrekang justru ditentukan oleh kualitas relasi antaraktor mulai dari pemerintah, petani, pedagang, hingga lembaga keuangan. Sementara faktor eksternal seperti cuaca, teknologi, atau kebijakan nasional hanya menyumbang 11%.

Artinya, keberhasilan sektor pertanian tidak hanya bergantung pada bibit unggul atau pupuk subsidi, tetapi lebih pada kekuatan jaringan dan kolaborasi antar pelaku. Sayangnya, dalam struktur ini, petani sering kali berada di posisi paling lemah. Mereka memiliki pengetahuan lokal yang kaya, namun minim pengakuan dan akses terhadap sumber daya.

Menurut Teun A. Van Dijk, bahasa tidak pernah netral,ia bisa menjadi alat kekuasaan. Di Enrekang, kita melihat bagaimana setiap aktor memiliki bahasanya sendiri mulai dari 

· Pemerintah bicara "efisiensi dan produktivitas"

· Pedagang besar menekankan "stabilitas harga"

· Sementara petani berjuang untuk "keadilan harga" dan "akses sumber daya"

Namun, suara petani kerap tenggelm dalam hiruk-pikuk wacana aktor yang lebih berkuasa. Akibatnya, kebijakan yang lahir lebih sering mencerminkan kepentingan kelompok dominan, bukan kebutuhan petani di lapangan.

 Lalu, bagaimana seharusnya? Aries Yasin dalam penelitian disertasinya merekomendasikan pendekatan kebijakan yang partisipatif dan relasional. Beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan:

1. Forum multipihak yang setara, tempat petani, pedagang, akademisi, dan pemerintah duduk sejajar merumuskan kebijakan

2. Partisipasi yang bermakna, di mana suara petani benar-benar didengar dan mempengaruhi keputusan

3. Penguatan kelembagaan petani melalui koperasi modern dan Badan Usaha Milik Petani (BUMP)

4. Sistem harga yang transparan dan akses pembiayaan yang inklusif

 Tanpa perubahan struktur ini, upaya peningkatan produksi hanya akan memperparah ketimpangan yang sudah ada.

 

Pesan utama dari penelitian Aries yasin sangat jelas, pertanian bukan sekadar urusan teknis menanam dan panen, melainkan tentang keadilan sosial dan distribusi kekuasaan. Selama petani hanya diposisikan sebagai pelaksana kebijakan, kesejahteraan mereka akan tetap menjadi impian.Pemerintah perlu melihat petani sebagai mitra strategis pembangunan—pelaku utama yang paling memahami dinamika lapangan. Mereka bukan objek bantuan, tetapi subjek perubahan.Ketika relasi sosial dibangun secara setara dan kebijakan disusun secara partisipatif, yang tumbuh bukan hanya hasil panen, tetapi juga harga diri dan martabat petani.

 

Pada akhirnya, membangun pertanian yang berkelanjutan berarti menanam dua hal sekaligus: bibit di tanah, dan keadilan dalam kebijakan. 🌾.



Minggu, 12 Oktober 2025

Air Mata di Ujung Impian: Ketika Garuda Gagal Terbang ke Piala Dunia

 




Kita masih ingin percaya bahwa ini hanya mimpi buruk. Bahwa kita akan segera terbangun, dan skor yang menyayat hati itu hanya ilusi. Tapi, sayup-sayup, lantang suara peluit wasit menggores kesadaran perjalanan kita telah berakhir. Garuda, sekali lagi, terpatahkan sayapnya di ambang gerbang pesta bola terakbar di dunia.


Hati ini serasa dihujani pecahan kaca. Setiap tendangan, setiap sundulan, setiap peluang yang menguap begitu saja, meninggalkan luka yang dalam. Kita hampir menyentuhnya. Sang mimpi, yang selama ini hangat dalam pelukan, tiba-tiba meregang dan hancur berkeping-keping di depan mata.


Stadion yang bergemuruh, kini sunyi oleh nestapa. Sorak-sorai yang menggema, berganti dengan isak tangis yang tertahan. Di layar kaca, di sudut-sudut kafe, di ruang keluarga, rakyat dari Sabang sampai Merauke menyatu dalam satu ras, pedih yang sama.


Kita telah memberikan segalanya. Para kesatria di lapangan hijau itu telah bercucur keringat, bahkan mungkin air mata, demi membawa nama Indonesia berkibar. Mereka berjuang dengan jiwa dan raga, mempertaruhkan harga diri satu bangsa. Lihatlah bagaimana mereka terjatuh, bangkit, dan jatuh lagi dengan dada sesak oleh kekecewaan. Mereka adalah pahlawan dengan luka yang paling perih.


Namun, di balik nestapa yang mendalam ini, ada secercah cahaya yang tak boleh padam. Perjalanan ini bukan sekadar tentang gagal atau berhasil. Ini tentang kebangkitan. Tentang sebuah bangsa yang mulai kembali mempercayai mimpinya. Kita sudah melihat secuil cahaya di ujung terowongan, dan cahaya itu membuktikan bahwa kita mampu.


Kegagalan kali ini terasa lebih menyakitkan karena harapan itu begitu nyata, begitu dekat. Tapi, biarkan air mata ini mengalir. Biarkan dada ini sesak oleh duka. Karena hanya dari kepedihan yang tulus, lahir tekad yang lebih membara.


Untuk Garuda kita, terima kasih telah membawa kami berimpi lagi. Terima kasih telah mengajarkan arti pertaruhan dan keberanian. Kegagalan hari ini bukanlah akhir. Ini adalah bab baru yang kelak akan kita buka dengan cerita yang berbeda.


Indonesia, kita terluka, tapi kita tidak pernah mati. Kita akan bangkit, kembali berharap, dan suatu saat nanti, teriakkan “Merah Putih” akan benar-benar menggema di panggung Piala Dunia. Percayalah.

Sabtu, 11 Oktober 2025

Melawan Dengan Halus

  







Garis Tengah Kopi: Sebuah Ruang Penyeimbang di Tengah Dunia yang Terpolarisasi.

 

  Pertemuan saya dengan Ridwan, yang akrab disapa Ridu, merupakan sebuah rangkaian takdir yang indah. Dia adalah sosok inspiratif di balik Garis Tengah Kopi ,sebuah tempat yang tak hanya menyajikan kopi berkualitas, tapi juga menghidupkan cerita dan nilai-nilai bermakna. Pertemuan pertama kami terjadi di Pinrang, dalam sebuah moment yang hangat, di tengah orang-orang dengan semangat sama dalam membangun masa depan. Sebagai sesama alumni Ilmu Pemerintahan, saya mengagumi ketenangan yang terpancar dari dirinya. Kesederhanaan yang dimilikinya justru menjadi wadah bagi pemikiran-pemikiran yang mendalam. Di balik tutur katanya yang santun, tergambar jelas jiwa seorang pembangun sejati ,seseorang yang meyakini bahwa membangun bukan hanya tentang hal fisik, tapi juga tentang menciptakan ruang untuk berbagi hati dan kesadaran.


Ikatan persahabatan kami semakin erat pada 2023, di tengah dinamika Pemilihan Umum. Saat itu saya berkesempatan menjadi penyelenggara, sementara beliau berpartisipasi aktif sebagai peserta. Setelah masa pemilihan umum usai, kami kembali bertemu di Tjora Coffee, Baraka. Di bawah senja yang beranjak pergi, Beliau ( Ridu ) berbagi cerita tentang babak baru dalam hidupnya, sebuah kedai kopi yang tak hanya menawarkan minuman nikmat, tapi juga menjadi ruang untuk saling menginspirasi dan memperkuat satu sama lain. Di momen itulah saya menyaksikan konsistensi dirinya ,dari dunia politik ia beralih ke gerakan sosial-budaya dengan semangat yang tak berubah merawat ruang kebersamaan.


Percakapan kami berlanjut hingga ke teras rumahnya, diwarnai tawa dan refleksi kehidupan. Dengan ketulusan hati, saya pun menyampaikan pertanyaan yang menggugah "Sudah siapkah menghadapi tantangan? Konsep seperti ini di lingkungan kita merupakan terobosan yang mungkin akan mengundang beragam tanggapan. Lebih dari itu, sudah siapkah jika nanti ada perbedaan persepsi? Kita baru saja melalui momen PILKADA dengan segala dinamikanya , beragam kepentingan kelompok dengan pandangan yang berbeda, serta situasi yang cukup kompleks.


Pertanyaan itu lahir dari keinginan tulus untuk memperkuat tekadnya. Dan dari situlah, bagai api yang menempa baja, lahirlah komitmennya yang tak tergoyahkan. Laksana petani yang yakin pada benih pilihan, Dia memutuskan untuk terus membangun , bukan dengan retorika kosong, tapi dengan ketekunan seorang pengrajin yang menghargai proses. Inilah yang membentuk karakter dirinya, seorang pendiri yang tak hanya membangun bisnis, tapi juga menciptakan ruang di mana setiap orang dapat mengingat kembali makna kemanusiaannya.


Di jantung Sulawesi, di mana Gunung Enrekang berdiri megah dan tanahnya yang subur, terciptalah kisah indah tentang biji kopi, proses, dan cita rasa. Pada 2018, di lahan yang dikenal sebagai salah satu penghasil Arabika terbaik di Indonesia, Garis Tengah Kopi Roasters memulai perjalanan mulianya. Bukan sekadar untuk menyangrai kopi, tapi untuk merajut makna dalam setiap jejak kehidupan .Upaya menghadirkan kembali esensi kemanusiaan di tengah sistem yang kerap membuat kita lupa akan hubungan antar sesama.


Nama "Garis Tengah Kopi" mencerminkan filosofi sekaligus pilihan bijak dalam bersikap. Di dunia yang sering memaksa kita untuk memilih satu sisi, mereka justru mencari titik temu , ruang pertemuan yang harmonis antara tradisi dan inovasi, antara kepentingan petani dan selera penikmat. Seperti konsep pemerintahan yang baik, mereka hadir sebagai jembatan yang merangkul kearifan lokal dengan perkembangan modern, sekaligus menghargai jerih payah petani dengan apresiasi yang mendalam.


Semangat ini terwujud dalam pembukaan kedai mereka pada 7 Oktober 2025. Saat itulah Garis Tengah Kopi Chapter Pasui mendeklarasikan semangat "Berdiri di Atas Kaki Sendiri" , tekad kemandirian dalam bingkai kedaulatan ekonomi yang mengutamakan kemandirian. Prinsip ini berpadu dengan semangat "No Flag, No Colour", komitmen untuk melampaui batasan-batasan identitas yang kerap memisahkan.


Semangat ini semakin relevan di suasana setelah Pilkada, ketika kehidupan sosial kerap terpolarisasi oleh perbedaan pandangan. Di tengah berkurangnya ruang netral dan munculnya beragam persepsi, Garis Tengah Kopi memilih jalan yang berbeda. "No Flag, No Colour" adalah janji mereka untuk tetap menjadi ruang bersama , tempat di mana semua pihak dapat bertemu dalam kesetaraan. Kopi menjadi bahasa universal pemersatu, di mana setiap cangkir bercerita tentang asal-usulnya, bukan tentang perbedaan yang memisahkan.


Landasan mereka adalah Direct Trade ,bukan sekadar model bisnis, tapi sebuah prinsip etika. Mereka membangun hubungan yang lebih dalam dari sekadar transaksi , ini adalah praktik ekonomi yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Pendekatan ini menjadi alternatif bagi sistem perdagangan yang terlalu impersonal. Setiap biji kopi yang mereka olah adalah bukti komitmen bahwa di balik aromanya yang memikat, tersimpan cerita tentang tanggung jawab dan saling menghormati.


Sebagai pemanggang kopi, Garis Tengah Kopi memandang proses penyangraian bukan sebagai teknik yang kaku, tapi seni mengungkap karakter setiap biji. Sementara kedai kopi mereka hadir sebagai "Ruang Ketiga" tempat netral di luar rumah dan kantor. Di sini, secangkir kopi menjadi media pemersatu, tempat berbagai kalangan dapat bertemu dalam kesederhanaan yang manusiawi.


Kini Garis Tengah Kopi Roasters terus berkembang, konsisten berkontribusi pada denyut nadi dunia kopi Indonesia. Dengan prinsip "Berdiri di Atas Kaki Sendiri" sebagai panduan, dan semangat "No Flag, No Colour" sebagai arah, visi mereka adalah terus menjadi bagian dari lanskap kopi yang inklusif, berkelanjutan, dan penuh makna. Mereka mewujudkan apa yang disebut tata kelola kolaboratif di mana semua unsur masyarakat dapat bertemu dalam semangat kemitraan.


Garis Tengah Kopi meyakini bahwa secangkir kopi terbaik bukan hanya yang memanjakan lidah, tapi juga yang menyentuh jiwa , menghubungkan kita dengan tanah tempatnya tumbuh, dengan manusia yang merawatnya, dan dengan cerita yang mengalir dalam setiap tegukan. Inilah esensi kemanusiaan yang sejati  yang menyadarkan kita akan keterhubungan dengan alam, sesama, dan diri sendiri. Garis Tengah Kopi pada akhirnya lebih dari sekadar bisnis. Ia adalah undangan untuk berani menjadi jembatan, bukan karena tak punya pendirian, tapi justru karena berpegang pada prinsip menghargai setiap perspektif. Dalam setiap biji yang disangrai, dalam setiap cangkir yang dituang, terselip harapan agar kita dapat selalu menjaga kebersamaan dalam keberagaman.

                    

MARI BERTEMU DI TENGAH,DI MANA KOPI BERCERITA DAN KITA SALING MENDENGARKAN!!!

Senin, 04 Agustus 2025




 Mengukir Etos, Menyemai Paripurna:

19 Tahun Jejak Sang Patriot di Bumi Buntu Batu 


Di antara gemuruh genderang Pagalelu dan semerbak wangi Langdah yang melambai, Himpunan Pelajar Mahasiswa Massenrempulu (HPMM) Cabang Kecamatan Buntu Batu menginjak usia ke-19 tahun,sebuah usia yang bukan lagi remaja yang bimbang, melainkan dewasa yang teguh bagai Sinaji.Sejak puisi "Sang Patriot" pertama kali menggema dalam peresmian Kecamatan Buntu Batu pada Januari 2007, setiap kata dalam syair itu telah menjadi mantra penggerak “Mengukir etos di Buntu Batu" bukan sekadar metafor, melainkan janji kolektif yang terus dihidupi.  



Di sini, di tanah di mana Gunung Latimojong menjulang saksi, di lereng Buntu Mondong yang terjal, dan di tebing Potokullin yang curam, semangat itu tetap menyala. "Mereka bersumpah meraih cita" dan sumpah itu kini berpindah ke tangan generasi baru. Tangga Eran Batu, yang kokoh bagai legenda Sinaji, bukan lagi sekadar batu bertumpuk, melainkan simbol pendidikan yang dibangun HPMM. diskusi yang mencerahkan, dan literasi yang membebaskan.Sementara musik bambu dan hentakan tradisi Pagalelu tetap menjadi denyut nadi yang mengingatkan kemajuan tak boleh memutus akar.  


Namun, di balik pencapaian, tantangan mengintai,globalisasi menggoda pemuda untuk berlari ke kota, meninggalkan Sipakario-rio  yang dulu dipegang teguh. Di sinilah filsafat "Lunjen",tempat peristirahatan para raja Buntu Batu menjadi relevan. Setiap langkah hari ini adalah warisan untuk yang akan tidur di sana kelak. HPMM Buntu Batu tak boleh hanya mengenang, tapi harus menghidupkan kembali "Sang Patriot" sebagai manifesto, mengubah nostalgia menjadi aksi nyata.  


Pada akhirnya, pesan puisi itu menggema "Mereka adalah Anda... dan ANDA.". Setiap keringat yang menetes di jalan Buntu Batu, setiap ide yang lahir di ruang diskusi, adalah lanjutan dari jejak para patriot pendahulu. Sembilan belas tahun bukan garis finis, melainkan “Batu pertama menuju seratus tahun berikutnya”. Insan paripurna,manusia utuh yang berpengetahuan, berintegritas, dan berkontribusi bukanlah ilusi, melainkan pilihan yang harus diperjuangkan bersama. Sebab, seperti kata Pendahulu “ Jejak tapak sang pembangun tak pernah terhapus oleh hujan, hanya dilanjutkan oleh langkah baru."  


Di usia ke-19 ini, HPMM Buntu Batu bukan lagi sekadar organisasi, melainkan penjaga api warisan yang terus menyala, penerus SANG PATRIOT yang dalam diamnya Lunjen tetap berseru "Teruslah mengukir etos, hingga kejayaan itu bukan lagi mimpi, tetapi wangi yang nyata, seperti Langdah yang berbuah di tanah kelahiran kita."  


Selamat Ulang Tahun, HPMM Buntu Batu. Mari menyongsong abad dengan langkah yang lebih paripurna.


(Ditulis dengan semangat Sipakario-rio, untuk HUT ke-19 HPMM Cabang Buntu Batu, 2025.)

Kamis, 31 Juli 2025

"Ketika Luffy Jadi Alibi" fiksi One Piece







Coretan Poneglyph didinding.

Matahari terik membakar debu jalanan di Kampung Nelayan Muara Hijau. Bau ikan asin dan garam bercampur dengan anyir lumpur di pelabuhan kecil. Di gubuk reyotnya, Pak Darmaji memeluk erat foto anak perempuannya, Laras, yang merantau ke kota. Sejak proyek reklamasi "Teluk Emas" mencaplok wilayah tangkap mereka, kehidupan semakin sulit. Jaring-jaring sering kosong, hutang menumpuk. Ia hanya bisa menghela napas panjang, menyaksikan kapal-kapal besar proyek itu merusak terumbu karang tempat ikan bersarang.

Sementara itu, di layar ponsel Bu Rina, ibu rumah tangga di komplek perumahan mewah tak jauh dari situ, dunia sedang ramai.Feed media sosialnya penuh bendera bergambar tengkorak bertopi jerami dan tulang bersilang bendera Bajak Laut Topi Jerami dari One Piece. Tagar OnePieceDiIndonesia sedang trending. Awalnya diposting oleh beberapa akun , lalu tiba-tiba semua orang ikut memposting dari berbagai kalangan . "Merdeka seperti Luffy!" tulis akun dengan foto selfie memegang bendera mini. "Kejar One Piece-mu!" tweet seorang pengusaha sambil memajang bendera besar di depan kantornya yang megah.

Bu Rina, yang hanya tahu One Piece sebatas nama, segera membeli bendera kecil dari online shop. Ia upload foto bendera itu di depan pot bunga anggreknya. "Waktunya petualangan! #OnePieceDiIndonesia #MerdekaSejati," tulisnya. *Like* dan komentar "Keren Bu!" pun membanjir. Ia merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar, sesuatu yang heroik, meski tak benar-benar paham apa arti bendera itu di dalam ceritanya, apalagi di dunia nyata.


Di kantor balaikota, Pak Broto, sang Bupati, tersenyum puas melihat engagement di akun resminya. Foto dirinya memegang bendera Bajak Laut Topi Jerami di atas mimbar resmi kantornya viral. "Semangat Nyaakkooodaaammm! Menuju Indonesia yang lebih baik!" tulisnya. Tim humasnya cerdik. Proyek reklamasi Teluk Emas yang menuai protes warga Muara Hijau tengah membutuhkan pengalihan isu. Tren One Piece ini adalah berkah. Mereka bahkan membuat challenge "Davy Back Fight ala Muara Hijau" – kontes dance di TikTok dengan hadiah uang tunai, tentu saja dengan latar bendera Topi Jerami. Isu lingkungan dan nelayan pun tenggelam di lautan postingan bendera.


Suatu sore, anak Bu Rina, Ardi, yang SMA dan penggemar berat One Piece, pulang dengan wajah masam. "Ibu, kenapa sih ikut-ikutan pasang bendera bajak laut? Ibu tahu nggak artinya?" protesnya melihat bendera kecil di pot bunga.


Lho, kan lagi trending, Nak. Biar kelihatan update. Katanya semangat merdeka, jawab Bu Rina bingung.


Ardi menggeleng. Itu bendera kru Monkey D. Luffy, Ibu. Mereka bajak laut yang berjuang melawan World Government yang korup dan menindas! Mereka memperjuangkan kebebasan sejati, buat orang-orang kecil yang terzhalimi! Bukan sekadar simbol trending di media sosial. Matanya berapi-api. Ia lalu bercerita tentang pulau Ohara yang dihancurkan karena ilmuwan yang mencari kebenaran sejarah, tentang nelayan-nelayan di pulau kecil yang ditindas oleh bajak laut bayaran World Government.


Kata-kata Ardi seperti pukulan bagi Bu Rina. Ia teringat berita singkat yang ia scroll lalu tentang nelayan Muara Hijau yang memprotes reklamasi. Ia buka lagi feednya. Di antara lautan postingan bendera Topi Jerami yang ceria, ada satu tweet yang nyaris tak terbaca dari akun warga Muara Hijau: foto Pak Darmaji dengan wajah lesu di depan gubuknya, latarnya kapal-kapal pengeruk proyek Teluk Emas. Caption-nya singkat: "Nelayan Muara Hijau kehilangan lautnya. Di mana 'merdeka' kita?" Ironisnya, di kolom komentar, seseorang justru menulis: "Posting bendera One Piece biar semangat omcuu!".Bu Rina merasa seperti Nami saat pertama kali menyadari Arlong telah membohonginya. Ia melihat bendera kecil di pot bunganya tak lagi heroik, tapi tiba-tiba terasa kosong, bahkan munafik. Bendera yang seharusnya simbol perlawanan terhadap tirani, justru dipakai oleh para "penguasa" untuk menutupi tindakan mereka sendiri. Ini seperti Marine yang menggunakan simbol keadilan untuk menutupi kejahatan World Government.Netizen ribut-ribut soal bendera bajak laut, sementara bajak laut bayaran proyek mengeruk laut rakyat di depan mata.Ia tak bisa diam. Dengan tangan gemetar, Bu Rina meng-upload foto bendera Topi Jerami kecil itu lagi. Tapi kali ini, di latar belakangnya sengaja ia selipkan potret layar ponsel yang menampilkan berita tentang protes nelayan Muara Hijau. Caption-nya ia tulis dengan hati-hati:

"Mungkin kita semua terpesona oleh bendera Topi Jerami karena dalam hati, kita rindu kebebasan & keadilan seperti yang diperjuangkan Luffy. Tapi jangan sampai kita seperti warga Dressrosa yang asyik party sementara Doflamingo mengendalikan mereka dengan benang. Bendera adalah simbol. Tindakan nyata memperjuangkan yang lemah, seperti Luffy ke Fishman Island atau Wano Kuni, itulah semangat sejatinya. Apa arti bendera ini jika kita abai pada 'Muara Hijau' di depan kita? #OnePieceDiIndonesia #BukanHanyaBendera"


Postingan Bu Rina itu bagai bom kecil. Beberapa netizen yang juga mulai jenuh dengan euforia kosong, mulai like dan share. Komentar bermunculan: "Setuju! Jangan cuma virtue signaling!", "Apa hubungannya bendera anime sama nelayan?", "Ini kritik buat pemerintah yang ikut nge-trend ya?". Perlahan, tagar #SaveMuaraHijau mulai bermunculan, diselipkan di antara postingan bendera.


Pak Darmaji di gubuknya tak tahu apa-apa tentang One Piece atau trending topic. Yang ia tahu, tiba-tiba ada lebih banyak orang datang ke Muara Hijau. Bukan hanya aktivis lama, tapi juga anak-anak muda dengan kaos bergambar bajak laut. Mereka memegang ponsel, live streaming, mewawancarainya. "Ceritakan, Pak. Apa yang terjadi di sini?" tanya seorang pemuda dengan semangat laksana Zoro memegang pedang.Pak Darmaji pun bercerita. Tentang laut yang jadi sumber hidup, tentang janji manis yang tak kunjung terwujud, tentang ketakutan mereka yang kecil. Kisahnya direkam, disebarkan, viral di bawah bendera hashtag #SaveMuaraHijau dan #OnePieceNyata.


Di balik meja kerjanya yang mewah, Pak Broto mulai gerah. Timeline-nya yang dulu dipenuhi pujian, kini mulai diisi tagar kritis dan foto gubuk reyot Pak Darmaji. Ia menyentak telepon. "Kenapa engagement kita turun?! Ciptakan trend baru! Atau... buatkan fanart saya sebagai Luffy sedang membangun jembatan!" perintahnya, panik. Tapi badai kecil telah dimulai.Netizen yang semula hanya memposting simbol, mulai mencari 'Poneglyph' di dunia nyata – catatan ketidakadilan yang tersembunyi.Bendera Topi Jerami masih berkibar di feed media sosial. Tapi kini, di antara yang sekadar ikut arus, muncul kelompok yang mulai memahami bahwa semangat One Piece bukan tentang estetika bendera di feed, tapi tentang keberanian melawan tirani apa pun bentuknya, meski badai menghadang. Petualangan sejati, ternyata, bukan mencari harta karun di lautan luas, tapi memperjuangkan keadilan di depan mata, di "Grand Line" bernama Indonesia. Revolusi kecil di layar itu baru saja dimulai, dan seperti kata Luffy, mimpi orang-orang... tak pernah ada yang mati.

Selasa, 22 Juli 2025

 


SANG PATRIOT

Jejak tapak sang Patriot Pembangunan.

Mengukir Etos Di BuntuBatu.

Mereka bersumpah meraih cita. 


Meski setinggi gunung latimojong.

Meski seterjal Buntu Mondong.

Meski securam Potokullin 


Jejak tapak sang patriot Pembangunan.

Demi cita,lelah dan ciut tak hadir dalam kamus mereka.

mereka punya tangga ERAN BATU...,yang kokoh bagai SINAJI. 


Karena mereka terbius...semerbak kejayaan yang mewangi  bagai pohon LANGDAH. 

Karena mereka diiringi pesta sipakario_rio yang menggemah di setiap sudut Ledan. 

Teramu dalam indahnya Musik bambu dan hentak genderang Pagalelu. 


Jejak_Jejak tapak sang Patrior Pembangunan.

Yang pada akhirnya nanti..

Akan terkenang Aromanya. 


Disaat jejak tapak itu melaporkan tetesan keringatnya.

Pada tempat yang hening...

Damai bersama jasad_Jasad patriot pendahulu.

Pada peraduan terakhirnya di Lunjen.

Disitu pula mereka dikenang dan dikenal 


Yang ternyata mereka adalah Anda...dan ANDA

( Pasui ,Mustamin Amri ,2007 )

Senin, 21 Juli 2025


 Matahari Terbit untuk Ekspor Indonesia: 

"Kisah Keberhasilan Diplomasi Prabowo di Kancah Global"

 


Kabarnya sungguh memesona hati: dari balik samudera, Presiden Prabowo Subianto pulang membawa oleh-oleh diplomasi yang membuat senyum pengusaha ekspor merekah.Tarif pajak ekspor Indonesia ke Amerika Serikat terjun signifikan dari 32% menjadi 19%—selisih 13% yang bukan sekadar angka, tapi napas baru bagi perekonomian!.Bagi pelaku industri kayu, tekstil, kertas, dan sektor strategis lain, ini laksana “matahari pagi yang menyinari ladang setelah hujan panjang”, beban lebih ringan, daya saing menguat, akses ke pasar raksasa AS pun terbentang luas.  


Lalu, Capaian Ini: Gaya Kucing yang Manis atau Langkah Macan yang Tegas?

Kucing? Tentu bukan. Kucing mungkin puas dengan belaian dan iming-imim manis. Tapi "diplomasi sejati bukanlah sekadar merangkul tangan, melainkan keberanian membuka pintu-pintu yang terkunci". Hasil 13% ini terlalu besar untuk disebut basa-basi. Ini adalah tarian strategi Sang Macan yang tegas, visioner, dan penuh kalkulasi. Ketika Presiden tiba di Washington, ia tak hanya membawa senyum diplomatis, tapi "misi sakral" mengalirkan udara segar untuk denyut nadi industri nasional.  


Mari sedikit mendengar Fakta-fakta yang Berbicara Lantang

1. 13% = Napas Panjang untuk Pengusaha.

2. Efek Rantai Kebahagiaan. 

3. Puncak Pengakuan Global  

    Dari buruh pabrik hingga petani kapas di pelosok desa,semua akan merasakan gemanya. “Bagaikan aliran sungai yang menghidupi sawah-sawah kering, begitu seorang pengusaha mengibaratkan.Bisa jadi Penghematan biaya ini langsung menyentuh kantung produksi, potensi kenaikan order mencapai 20% dalam 6 bulan ke depan.AS, raksasa ekonomi dunia, takkan menurunkan tarif tanpa keyakinan.Ini adalah pengakuan bahwa Indonesia adalah mutu yang berkilau di pasar global.

Durian Berduri? 

Benar, setiap keberhasilan punya tantangan. Apakah ada hidden agenda? Bagaimana teknis implementasinya? Itu tugas tim teknis pemerintah. Tapi hari ini, kita layak berbahagia,hasil ini adalah daging tebal, bukan tulang belulang!.Diplomasi yang mengharumkan nama bangsa ibarat melukis di atas kanvas langit,setiap goresannya harus berani, setiap warnanya harus membawa kebanggaan, dan hasilnya harus bisa dinikmati oleh burung-burung kecil di sarangnya. Lalu masihkah kita menyimpan tanya ,Macan atau Kucing? Lihatlah buktinya ,Ini adalah langkah Sang Macan Asia ,bukan macan omacan, tapi macan bijak yang paham medan, mengincar peluang, dan pulang membawa mangsa gemuk untuk rakyatnya. Lalu apakah ini awal dari “Senja ke_Emasan” ekspor Indonesia? Atau justru babak baru diplomasi ekonomi yang lebih garang? .Mari seruput kopi Tjora seperti yang mereka nikmati bersama sambil menyaksikan, Sang Macan telah bangkit, dan aumannya mulai menggema di pentas dunia.  


Semoga angin kemajuan ini tak hanya berhembus di istana, tapi juga mengelus wajah-wajah lelah di pabrik-pabrik dan sawah-sawah negeri.

Kamis, 17 Juli 2025

Koperasi Merah Putih: Mimpi Besar yang Harus Dibangun dengan Kaki di Tanah ( Sebuah Opini )

 

Di tengah gemuruh wacana ekonomi kerakyatan yang kerap menguap menjadi sekadar retorika, kehadiran konsep Koperasi Merah Putih layaknya embun di musim kemarau. Sebagai pengamat yang akrab dengan denyut nadi ekonomi akar rumput - dari warung kopi tubruk hingga lapak rokok kartel, saya melihat peluang emas sekaligus jurang kegagalan dalam gagasan ini.

Jiwa dan Semangat Koperasi Merah Putih

Inti dari konsep ini sesungguhnya mulia: menghidupkan kembali ruh koperasi sebagai penyangga utama perekonomian bangsa. Bukan sekadar wadah iuran atau pembagi sembako, melainkan mesin penggerak ekonomi riil yang mampu mengangkat martabat UMKM setara dengan korporasi besar. Namun, seberapa realistiskah cita-cita luhur ini?

Di era serbadigital dimana marketplace asing mendominasi, Koperasi Merah Putih menawarkan janji kemandirian. Bayangkan petani kopi Enrekang yang mampu menjual langsung kepada konsumen akhir, bebas dari belitan 5-6 tengkulak. Atau pengrajin rotan Desa Ledan yang menembus pasar ekspor dengan harga pantas. Inilah mimpi kolektif yang patut diperjuangkan.

Belajar dari Pengalaman BUMDes dan KUD

Sebelum larut dalam euforia, mari berkaca pada dua pendahulu: BUMDes dan KUD.

BUMDes yang diagungkan sebagai lokomotif ekonomi desa, nyatanya banyak yang menjadi "proyek ATM" - hidup sebatas ada suntikan dana pemerintah. Sebuah laporan media mengungkap BUMDes di Jawa Timur dengan gedung megah namun aktivitas ekonomi mandek setelah dana stimulan habis.

Nasib KUD lebih memilukan. Yang dulu menjadi kebanggaan Orde Baru, kini menjelma "koperasi zombie" - ada secara administratif tapi mati secara ekonomi. Di berbagai daerah, aset KUD berupa puluhan hektar tanah terbengkalai akibat konflik internal, ironisnya justru disewakan ke perusahaan dengan harga murah.

Tiga Penyakit Kronis yang Harus Diwaspadai

Pengamatan lapangan mengungkap tiga penyakit ganas yang menggerogoti koperasi:

  1. Sindrom Ketergantungan: Ketergantungan berlebihan pada APBN/APBD membuat banyak koperasi kolaps saat program pemerintah berakhir
  2. Virus KKN: Praktik tidak transparan yang membuat dana anggota raib tanpa jejak
  3. Penyakit Sklerosis: Kekakuan beradaptasi dengan perubahan zaman, masih bertahan dengan sistem manual di era digital

Pilar Pembangunan Koperasi Merah Putih

Meski tantangan berat, Koperasi Merah Putih bisa menjadi game changer dengan:

  • Meritokrasi: Sistem rekrutmen terbuka berdasarkan kompetensi, bukan kedekatan
  • Transformasi Digital: Mengintegrasikan teknologi dalam seluruh aspek operasional
  • Kemandirian Bisnis: Membangun model bisnis berkelanjutan, bukan mengandalkan bantuan

Peluang di Era Digital

Di genggaman tangan kini terbentang peluang tak terbatas:

  • Platform e-commerce khusus produk anggota yang mampu bersaing dengan marketplace besar
  • Sistem pembiayaan peer-to-peer berbasis komunitas dengan bunga manusiawi
  • Pusat pelatihan digital untuk meningkatkan kapasitas anggota

Peran Vital Generasi Muda

Kebangkitan Koperasi Merah Putih membutuhkan sentuhan generasi muda yang visioner. Seperti di Bali, dimana KUD bangkit karena dikelola anak muda yang menghadirkan:

  • Sistem administrasi berbasis cloud
  • Transparansi keuangan real-time via aplikasi
  • Strategi pemasaran kreatif melalui TikTok dan Instagram Reels

Peran Ideal Pemerintah

Pemerintah harus bertransformasi dari "diktator" menjadi fasilitator dengan:

  • Pelatihan manajemen modern berbasis praktik
  • Jaringan akses pasar yang terintegrasi
  • Penyediaan infrastruktur pendukung memadai

Titik Balik Sejarah

Kita berada di persimpangan penting dimana Koperasi Merah Putih bisa menjadi:

  • Monumen kegagalan ekonomi kerakyatan kesekian, atau
  • Lompatan sejarah yang mengubah wajah perekonomian nasional

Seperti petuah bijak petani Kediri: "Koperasi ibarat tanaman. Butuh tanah subur (regulasi), air cukup (modal), sinar matahari (transparansi), dan petani tekun (komitmen)."

Koperasi Merah Putih memang mimpi besar. Namun dengan belajar dari kegagalan masa lalu dan komitmen semua pihak, mimpi ini bisa menjadi nyata. Jangan terjebak romantisme masa lalu, tapi juga jangan kehilangan semangat membangun masa depan.

Sudah cukup janji. Saatnya bekerja! Bukan dengan retorika kosong, melainkan aksi nyata dimulai dari lingkungan terkecil kita.

Sambil menyeruput kopi terakhir, saya membayangkan produk koperasi Indonesia bersaing di panggung dunia - bukan sebagai komoditas murah, melainkan produk premium bernilai tambah. Bukankah koperasi pertanian Thailand dan Vietnam telah membuktikan ini mungkin?

Kunci suksesnya terletak pada konsistensi dan keberanian berinovasi. Dengan semangat gotong royong sebagai DNA bangsa dan kecerdasan memanfaatkan teknologi, Koperasi Merah Putih bisa menjadi mercusuar ekonomi kerakyatan dunia.

Mari buktikan bahwa ekonomi berkeadilan bukan utopia, melainkan realitas yang bisa kita wujudkan bersama melalui kerja keras dan ketekunan. Selamat berjuang!

 


Selasa, 15 Juli 2025

"Kopi dan Sejarah: Menyimak Jejak Raja di Kedai Majao"


 Suatu hari yang penuh kenangan, saya diajak oleh seorang sahabat pemilik atau owner Kopi Tjora untuk menyambut malam di Kedai Majao, sebuah tempat yang sudah lama dikenal di Rura Anggeraja. Kedai ini tak hanya terkenal dengan kopi yang rasanya menggugah selera, tetapi juga dengan cerita-cerita sejarah yang menyimpan kekuatan dan kebijaksanaan. Kedai Majao bukan sekadar tempat untuk menikmati kopi, melainkan sebuah ruang untuk menyelami kedalaman waktu, tempat yang membiarkan kita merasakan jejak-jejak masa lalu.

Sayapun lemudian duduk dengan secangkir kopi, pandangan saya tertuju pada Gunung Bambapuang yang menjulang tinggi. Keindahan alam ini bukan sekadar pemandangan biasa. Gunung Bambapuang adalah saksi bisu dari sejarah yang mengalir dalam darah tanah Duri. Di kaki gunung ini lahir kisah legendaris tentang Kerajaan Tallu Batu Papan, sebuah kerajaan yang terbentuk lewat tangan bijak seorang raja bernama Puang Pasalin. Beliau dikenal dengan gelar To Mangpeluah Padang, sebuah gelar yang menandakan kebijaksanaan luar biasa dalam membagi kekuasaan di Tanah Duri.

Dahulu kala, Puang Pasalin bukan hanya memerintah, tapi juga membentuk sejarah. Ia membagi wilayah Duri menjadi tiga kerajaan, yang dipimpin oleh tiga orang raja yang masih bersaudara kandung. Maka lahirlah "Tallu Batu Papan", yang dalam bahasa lontara berarti Tiga Kerajaan yang Dipimpin oleh Tiga Orang Raja yang Masih Bersaudara Kandung. Sebuah pembagian yang mencerminkan kebijaksanaan dalam menjaga keseimbangan dan keharmonisan antara sesama.

Puang Pasalin, dengan keteguhan hatinya, juga dianugerahi tujuh orang anak, namun hanya tiga yang meneruskan legasi kepemimpinan. Mereka adalah Puang Kamaniang (Puang To Matasa'), Puang Kapatahi (Puang To Mataran), dan Puang Kadere (Puang To Mala'bih). Ketiga putra ini lah yang kemudian melanjutkan tongkat estafet pemerintahan, masing-masing memimpin wilayah yang menjadi bagian dari kerajaan yang terbagi dengan cermat. Kisah mereka adalah bagian dari sejarah yang tak lekang oleh waktu, sebuah perjalanan panjang yang masih bisa kita rasakan, meskipun hari ini kita hanya menikmati secangkir kopi.

Kehangatan kopi di Kedai Majao ini seperti membawa saya berkelana dalam waktu, seakan setiap tetes kopi yang masuk ke dalam tubuh memberi kesempatan bagi sejarah untuk hidup kembali. Setiap seduhan kopi seolah menyatu dengan kisah para leluhur yang menjaga tanah ini dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan. Begitu juga, dalam setiap cangkir kopi, ada ketelatenan yang mengingatkan kita pada betapa berartinya setiap langkah yang kita ambil dalam hidup, sama seperti para raja yang bijak membangun kerajaan mereka.

Di kedai ini, saya teringat akan sebuah kutipan dari kaum sufi yang sangat mengena: "Kopi bukan hanya minuman, tapi juga jalan menuju kedamaian jiwa. Setiap tetesnya adalah meditasi, setiap aroma adalah doa." Di Kedai Majao, kopi lebih dari sekadar penyegar raga. Setiap cangkir yang dihidangkan adalah penghubung antara masa kini dan masa lalu, membawa kedamaian dan kebijaksanaan yang tak tampak oleh mata, namun terasa dalam setiap detiknya.

Jadi, setiap kali saya duduk di Kedai Majao, secangkir kopi di tangan, saya merasa seperti sedang menulis ulang sejarah. Seperti para raja yang memimpin dengan bijak, saya pun diajak untuk meresapi makna di balik setiap tegukan kopi. Di sini, kopi bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang bagaimana kita menghargai perjalanan panjang kehidupan yang penuh dengan cerita, penuh dengan makna. Begitu banyak yang bisa kita pelajari, lebih dari sekadar rasa, tapi juga kebijaksanaan yang mengalir dalam sejarah tanah ini, yang sampai hari ini tetap terjaga dengan baik.

Senin, 14 Juli 2025

Tentang Putusan Mahkamah Konstitusi No. 135/PUU-XXII/2024 ( Kulit Luar )







Ad_hocPutusan Mahkamah Konstitusi (MK) No. 135/PUU-XXII/2024 merupakan hasil dari pengujian konstitusionalitas norma dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, yang khusus menguji aspek desain pemilu serentak nasional. Permohonan pengujian ini diajukan oleh akademisi dan aktivis pro-demokrasi yang menganggap pelaksanaan pemilu serentak pada 2019 dan 2024 menimbulkan kompleksitas dalam tata kelola yang membebani institusi penyelenggara pemilu serta mereduksi kualitas partisipasi publik.

Dalam perspektif ilmu pemerintahan, khususnya dalam teori tata kelola demokratis (democratic governance), desain pemilu adalah elemen struktural yang memengaruhi langsung efektivitas penyelenggaraan negara. Pemilu serentak yang melibatkan lima jenis pemilihan—Presiden dan Wakil Presiden, DPR, DPD, serta DPRD provinsi dan kabupaten/kota—telah memberikan tekanan berlebih terhadap kapasitas institusional Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan sumber daya manusia di tingkat Tempat Pemungutan Suara (TPS). Masalah teknis dan administratif yang muncul, mulai dari kelelahan petugas KPPS yang mengakibatkan korban jiwa, hingga kekacauan dalam rekapitulasi suara, mengindikasikan betapa beratnya beban yang dihadapi oleh penyelenggara pemilu.

Secara yuridis, pemohon menganggap bahwa desain pemilu serentak dalam UU No. 7 Tahun 2017 bertentangan dengan prinsip-prinsip konstitusional, terutama terkait asas keadilan pemilu dan efektivitas pelaksanaan kedaulatan rakyat yang tertuang dalam Pasal 1 ayat (2) dan Pasal 22E UUD 1945. Dalam teori hukum tata negara, pengujian ini menggambarkan penerapan asas supremasi konstitusi (the supremacy of the Constitution), yang memberi kewenangan kepada Mahkamah Konstitusi untuk menilai apakah suatu norma hukum sudah memenuhi prinsip legalitas dan proporsionalitas dalam negara hukum demokratis.

Mahkamah Konstitusi dalam putusannya menegaskan bahwa integrasi pemilu dalam satu hari, meskipun mungkin efisien dalam teori, ternyata tidak menjamin efisiensi substantif. Justru, hal tersebut mempersempit ruang deliberasi publik yang berkualitas, khususnya dalam pemilihan legislatif daerah. Oleh karena itu, dalam Putusan No. 135/PUU-XXII/2024, MK memutuskan bahwa pemilu legislatif daerah (DPRD provinsi dan kabupaten/kota) harus dipisahkan dari pemilu nasional, dengan interval minimal dua tahun setelah pelantikan Presiden dan Wakil Presiden.

Pemisahan Pemilu: Langkah Korektif dalam Demokrasi

Putusan MK ini dapat dipahami sebagai langkah korektif dalam proses institusionalisasi demokrasi, sebagaimana dijelaskan dalam teori demokrasi prosedural dan substantif. Pemisahan pemilu bertujuan untuk meningkatkan efektivitas administrasi pemilu sekaligus memperkuat demokrasi lokal yang lebih akuntabel dan terfokus.

Namun, dari sudut pandang teori sistem hukum, keputusan ini membawa implikasi sistemik terhadap struktur hukum dan kelembagaan penyelenggaraan pemilu. Pemisahan jadwal pemilu membutuhkan rekonstruksi regulasi teknis, penguatan kapasitas kelembagaan, serta perencanaan anggaran yang lebih kompleks. Hal ini memerlukan koordinasi lintas kelembagaan dan kebijakan berkelanjutan agar prinsip-prinsip hukum tata pemerintahan yang baik (good governance) dapat terwujud dengan konsisten.

Kelebihan Pemisahan Jadwal Pemilu

  1. Mengurangi Beban Logistik dan Teknis
    Pemilu serentak pada 2019 dan 2024 terbukti membebani KPU, Bawaslu, dan aparat keamanan. Pemisahan jadwal pemilu dapat mengurangi kelelahan administratif, menciptakan proses yang lebih terstruktur, dan memungkinkan para penyelenggara untuk bekerja lebih efisien.

  2. Memperkuat Akuntabilitas Politik Lokal
    Pemilu yang terpisah memungkinkan pemilih lebih fokus pada calon legislatif lokal, mengurangi pengaruh politik nasional (coattail effect). Ini meningkatkan akuntabilitas politik lokal, karena pemilih dapat menilai calon legislatif berdasarkan isu dan kebutuhan spesifik daerah mereka.

  3. Meningkatkan Kualitas Demokrasi
    Dari perspektif teori demokrasi, pemisahan jadwal pemilu meningkatkan kualitas demokrasi dengan memberi pemilih kesempatan untuk membuat keputusan yang lebih objektif, terfokus, dan berdasarkan isu-isu yang relevan dengan tingkat pemerintahan yang mereka pilih.

  4. Sinkronisasi Lebih Baik dengan Pilkada
    Pemisahan pemilu memungkinkan pemilihan DPRD dan kepala daerah dilakukan bersamaan, yang dapat memperkuat koherensi antara legislatif dan eksekutif di tingkat daerah. Ini meningkatkan efektivitas pemerintahan lokal, sesuai dengan teori koordinasi pemerintahan daerah.

  5. Memungkinkan Evaluasi Bertahap
    Dengan adanya jeda waktu dua tahun, evaluasi pelaksanaan pemilu dapat dilakukan dengan lebih cermat. Pemerintah dan KPU memiliki waktu yang cukup untuk memperbaiki prosedur dan teknis pelaksanaan pemilu, yang akan berdampak pada efisiensi dan efektivitas pemilu berikutnya.

Kekurangan Pemisahan Jadwal Pemilu

  1. Menurunkan Keserentakan Pemilu
    Pemisahan jadwal pemilu bertentangan dengan semangat Pasal 22E UUD 1945 yang menghendaki pemilu serentak. Ketidaksesuaian ini dapat menciptakan ketidakharmonisan dalam implementasi prinsip keserentakan yang dimandatkan oleh konstitusi, dan berpotensi mengurangi integritas demokrasi.

  2. Instabilitas Politik dan Sosial
    Pemisahan pemilu legislatif dan eksekutif berpotensi memperpanjang ketegangan politik, menciptakan suasana politik yang tidak stabil, dan menghambat keberlanjutan kebijakan pembangunan. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memperburuk polarisasi sosial.

  3. Meningkatkan Biaya Politik dan Efisiensi Anggaran
    Pemisahan pemilu mengarah pada pengeluaran lebih besar, karena pengadaan logistik, pengamanan, dan operasional dua kali dalam waktu dekat. Biaya ini akan membebani anggaran negara. Oleh karena itu, diperlukan strategi efisiensi anggaran yang cermat untuk mengurangi pemborosan.

  4. Perubahan Regulasi yang Kompleks
    Pemisahan pemilu membutuhkan perubahan mendalam dalam berbagai undang-undang yang terkait, seperti UU Pemilu, UU Pilkada, dan UU Pemerintahan Daerah. Penyelarasan regulasi menjadi sangat penting agar tidak menciptakan ketidakharmonisan hukum dan prosedural.

  5. Risiko Manipulasi Wewenang Legislatif Daerah
    Pemisahan pemilu dapat menyebabkan hubungan yang terlalu kooperatif antara DPRD dan Kepala Daerah, yang berisiko mengurangi fungsi pengawasan legislatif terhadap eksekutif. Untuk mengurangi risiko ini, sistem pemilu perlu memperkuat posisi DPRD agar tetap independen dan objektif dalam melaksanakan pengawasan.

Langkah-langkah Mengatasi Tantangan Pemisahan Pemilu

  1. Penyusunan Kebijakan yang Inklusif dan Transparan
    Pemerintah perlu melibatkan berbagai pihak dalam merumuskan kebijakan pemilu yang baru, memastikan inklusivitas dan transparansi dalam setiap tahap kebijakan.

  2. Penggunaan Teknologi dalam Pemilu
    Pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi pemilu, seperti digitalisasi penghitungan suara dan peningkatan akses informasi bagi pemilih, dapat mengurangi biaya serta meningkatkan kepercayaan publik terhadap proses pemilu.

  3. Pendidikan Politik yang Berkelanjutan
    Pendidikan politik kepada masyarakat harus diperkuat agar pemilih memahami perubahan sistem pemilu, serta pentingnya stabilitas politik dalam pembangunan negara.

  4. Pengawasan dan Evaluasi yang Ketat
    Penting untuk meningkatkan pengawasan terhadap proses pemilu dan penggunaan anggaran yang lebih efisien. Pengawasan yang ketat akan mencegah pemborosan dan memastikan kualitas pelaksanaan pemilu yang lebih baik.

  5. Koordinasi Antar Lembaga
    Meningkatkan koordinasi antara lembaga-lembaga terkait—baik di tingkat pusat maupun daerah—akan memastikan transisi menuju sistem pemilu baru berjalan dengan lancar, tanpa menimbulkan ketidakharmonisan antar lembaga.

Putusan MK No. 135/PUU-XXII/2024 bukan hanya preseden yuridis yang penting, tetapi juga menjadi momentum untuk reformasi sistem kepemiluan nasional. Pemisahan pemilu nasional dan lokal, meskipun membawa tantangan, membuka jalan untuk perbaikan dalam tata kelola pemerintahan yang lebih efisien, transparan, dan akuntabel. Melalui langkah-langkah konkret yang melibatkan teknologi, kebijakan yang inklusif, dan evaluasi yang berkelanjutan, diharapkan penyelenggaraan pemilu di Indonesia dapat menjadi lebih efektif, menjaga stabilitas politik, serta tetap berlandaskan pada prinsip-prinsip konstitusional yang tertuang dalam UUD 1945.


#kengkei!






Aries Yasin Yang membumi.Fajar Kearifan Di Langit Merah Tamalanrea

       Keberhasilan Aries Yasin mempertahankan disertasinya tentang relasi aktor agribisnis bawang merah di Enrekang patut diapresiasi. Kary...