Untuk Radiana Eka, yang jubah akademiknya berganti tinta dan kertas. Sebuah kidung dari masa lalu yang oranye.
Catatan Penulis: Tulisan ini adalah ungkapan pribadi, lahir dari rasa bangga . Segala nama dan peristiwa disebutkan sebagai bentuk apresiasi, bukan sebagai laporan resmi. Tidak ada maksud menyinggung pihak mana pun.
Selamat membaca.
Dulu, di sudut-sempit Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unhas, ada seorang perempuan yang tak pernah lelah berdebat dengan senja. Radiana Eka. Angkatan 2012. Sebuah nama yang sejak awal terdengar seperti puisi,radiana artinya cahaya, dan sungguh, cahaya itu memenuhi lorong-lorong gedung kuliah yang lembab oleh hiruk-pikuk gagasan.
Sistem Hukum Indonesia diajarkan oleh seorang guru yang bijaksana,suaranya seperti ibu yang sedang menasehati, bahwa hukum adalah samudra penuh gelombang, dan sang gadis ( Radiana Eka ) waktu itu hanyalah seorang perenung kecil di tepian pasir. Namun lihatlah sekarang. Samudra itu tak harus ditaklukkan dengan menjadi jenderal. Cukup dengan menjadi nahkoda dari atas kapal ,memulai dari menulis, mencatat, dan memastikan semua dokumen berjalan pada relnya. Dan itulah yang Radiana pilih, mengabdi di rumah pengawasan demokrasi Kabupaten Enrekang sebagai seorang abdi negara, sebagai staf yang tangannya menulis laporan, yang jarinya mengetik berita acara, yang matanya memeriksa kelengkapan berkas.
Betapa alam semesta merangkai skenario yang begitu puitis.
Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara ia pelajari dari para pemikir yang tenang namun tegas,tentang konstitusi yang berdenyut seperti jantung yang tak pernah istirahat, tentang prosedur yang menjadi urat nadi Republik. Dan sekarang, pengetahuan itu ia tuangkan bukan ke dalam putusan, melainkan ke dalam nota dinas, surat-menyurat, dan arsip yang tersusun rapi di lemari.
Birokrasi Pemerintahan dan Manajemen Pemerintahan mengajarkan cara mengatur napas di tengah hiruk-pikuk kekuasaan. Sementara Etika Politik dan Pemerintahan dibisikkan oleh seorang filsuf kampus,bahwa etika adalah bintang di malam paling gelap dan sebagai staf, etika itu berarti menjaga kerahasiaan berkas, tidak membocorkan data, serta melayani dengan hati yang jujur.
Kebijakan Publik menjadi pelukan hangat bagi rakyat yang kedinginan oleh ketidakadilan meski Radiana tak merumuskan kebijakan itu sendiri, ia adalah salah satu perajut benang yang membuat kebijakan itu bisa berjalan.
Teori-Teori Pemerintahan membisikkan cara membaca peta langit politik. Sistem Pemerintahan Daerah mengajarkan cara merawat akar-akar rumput di tanah kelahiran dan kini Radiana membantu merawatnya dari balik meja kerja, dari balik layar, sebagai bagian dari mesin kecil yang membuat roda demokrasi tetap berputar.
Kepemimpinan Pemerintahan dan Metode Penelitian Sosial adalah dua sayap satu mengajak terbang tinggi, satu lagi memastikan pendaratan dengan data di tangan. Sebagai PNS, beliau mungkin tak memimpin rapat, namun ia memimpin arsip agar tak hilang. Ia mungkin tak memimpin orang, namun ia memimpin waktu agar semua tenggat terpenuhi. Dan dari bangku kuliah, ia belajar bahwa metode penelitian sosial berguna ketika suatu saat ia diminta menyusun laporan pengawasan berbasis data pekerjaan yang kelihatan sederhana, tapi menentukan.
Dan di sela-sela jadwal kuliah yang padat, Himapem memeluk erat. Jargon "Merdeka, Militan" bergema di dada, sementara warna Oranye menyelinap masuk ke pori-pori jiwa. Warna yang tak pernah malu. Warna fajar yang membakar kabut.
Hari ini, Cinta. Detik ini. Bumi Enrekang membuka pintu lebar-lebar. Lembaga penjaga suara rakyat di Kabupaten Enrekang menerimanya bukan sebagai komisioner yang duduk di kursi empuk, melainkan sebagai staf ASN PNS tangan yang bergerak, punggung yang menyangga, tinta yang tak pernah habis.
Bayangkanlah, wahai perempuan oranye ku. Sistem Hukum Indonesia yang dulu seperti kitab kuno berdebu, kini adalah panduan saat ia menulis berita acara pemeriksaan. Ia tak perlu memutuskan siapa yang bersalah, namun ia harus memastikan setiap kata dalam berita acara itu akurat, setiap tanda tangan lengkap, setiap prosedur terpenuhi.
Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara adalah dua pelita yang digenggam erat. Ia akan berjalan di lorong-lorong posko keadilan pemilu itu, membawa map berisi berkas-berkas yang harus segera didistribusikan ke ruang komisioner. Di setiap pertigaan koridor, ia tersenyum pada rekan kerja, membuka pintu rapat, menyiapkan ruang sidang. Ia tak membuat keputusan ia membuat keputusan itu bisa lahir dengan lancar.
Birokrasi Pemerintahan yang dulu terasa kering seperti gurun di buku teks, kini disirami kesabaran. D belajar bahwa mengurus nomor surat, menyusun arsip berdasarkan tanggal, dan memastikan disposisi tidak tercecer adalah bentuk lain dari jihad birokrasi. Pelan, namun penting. Seperti detak jam yang tak pernah terdengar, tapi tanpanya, waktu berhenti.
Manajemen Pemerintahan mengajarkan bahwa koordinasi adalah tarian. Dan sebagai PNS, Dia adalah penari yang paling sibuk, menghubungi sekretariat, mengingatkan jadwal, mengecek kelengkapan lampiran. Ia tak tampil di panggung. Ia adalah design properti yang membuat panggung tetap berdiri.
Etika Politik dan Pemerintahan akan berbisik di telinga, seandainya suatu saat dihadapkan pada godaan kecil menambah data, mengurangi angka, atau pura-pura lupa melaporkan sesuatu. Maka bisikan itu keras: "Tidak, Radiana. Etika adalah integritas di level paling bawah sekaligus paling menentukan."
Kebijakan Publik adalah peta jalan. Ia tak membuat peta itu, tapi ia menyusun lembaran-lembaran peta, menjilidnya, mengirimkannya ke pihak yang membutuhkan, lalu menyimpannya kembali dalam arsip. Pekerjaan yang mungkin tak pernah disebut dalam sejarah, tapi tanpanya, sejarah akan hilang.
Pengantar Ilmu Politik dan Teori-Teori Pemerintahan seperti lagu lama yang terus berputar di kepala. Radiana paham bahwa demokrasi tidak hanya dijaga oleh mereka yang duduk di kursi rapat. Demokrasi juga dijaga oleh staf yang datang pagi, pulang sore, dan memastikan semua surat terkirim tepat waktu.
Sistem Pemerintahan Daerah adalah lensa kaca pembesar yang menempel di mata. Radiana tahu betul bahwa Bawaslu Kabupaten Enrekang punya kewenangan, dan sebagai staf, ia adalah tangan yang membantu kewenangan itu dijalankan dari membuat jadwal pengawasan, mendokumentasikan temuan, hingga mengagendakan tindak lanjut.
Kepemimpinan Pemerintahan mengajarkan bahwa pemimpin tak selalu punya jabatan. Di ruang staf, Radiana bisa menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri pemimpin atas kedisiplinan, pemimpin atas ketelitian, pemimpin atas kerelaan untuk tidak terlihat tapi terus bekerja.
Metode Penelitian Sosial adalah jaring penangkap fakta. Dan suatu hari, mungkin Radiana diminta menyusun laporan pengawasan partisipatif berbasis data. Maka ia akan bersyukur pernah mempelajari kuesioner, wawancara, dan analisis data keterampilan yang membuat seorang tak hanya rajin, tapi juga cerdas.
Oh, lihatlah betapa alam semesta sedang tersenyum. Dulu di Himapem, Radiana meneriaki ketidakadilan dengan suara lantang di tengah hujan. Kini di gerbang demokrasi, ia mengawasi ketidakadilan dengan cara yang berbeda: dengan melaporkan, dengan mendokumentasikan, dengan menjadi bagian dari sistem yang perlahan-lahan memperbaiki diri. Ia tak lagi berteriak di jalan. Ia menulis laporan yang suatu hari akan dibaca oleh mereka yang berkuasa.
Bentuk perjuangan berubah, tapi ruhnya tetap sama.
"Merdeka, Militan" kedua kata itu bukan sekadar hiasan di jaket almamater. Sekarang mereka telah menjadi daging dan darah. Merdeka artinya sebagai PNS, ia bebas dari tekanan untuk memanipulasi data. Militan artinya ia akan terus mengetik, terus mengarsip, terus mengingatkan meskipun lelah melilit pergelangan tangan.
Dan warna Oranye... ah, betapa indah simbol ini. Warna milik Himapem yang dulu, warna milik lembaga pengawasan yang sekarang, dan kini warna itu melekat di seragam Radiana—seorang Design yang mungkin tak pernah diwawancarai media, tapi setiap pagi datang lebih awal untuk menyiapkan ruang rapat. Seorang staf yang mungkin tak pernah menandatangani kebijakan, tapi setiap lembar kebijakan melewati tangannya.
Seperti anak panah yang melesat tepat ke jantung takdir. Seolah-olah semesta berbisik: "Radiana, ambil warna ini. Bawa ke Enrekang. Dan biarkan ia menyala dari balik meja kerjamu. Karena cahaya tak harus selalu di atas panggung. Cahaya juga bisa bersembunyi di tinta, di kertas, di setiap huruf yang kau ketik untuk keadilan."
Radiana kini adalah puisi yang bergerak pelan. Bukan puisi yang dibacakan di panggung besar, tapi puisi yang ditempel di papan pengumuman, di agenda harian, di stempel basah yang membubuhkan sahnya sebuah proses.
Para guru yang dulu duduk di depan kelas, dengan sabar menurunkan ilmu—kini tak perlu hadir secara fisik. Mereka mungkin tak tahu bahwa salah satu muridnya kini menjadi tulang punggung administrasi di rumah pengawasan demokrasi Enrekang. Tapi jika mereka tahu, mereka akan tersenyum. Karena mereka tak hanya melahirkan pemikir. Mereka juga melahirkan pelaksana yang setia, staf yang teliti, abdi negara yang rendah hati.
Ilmu yang telah ditanamkan dan nama Radiana yang tercantum dalam Surat Keputusan pelantikan sebagai ASN PNS di lingkungan lembaga penjaga suara rakyat sudah cukup menjadi bunga yang dipersembahkan untuk semua guru.
Selamat, Radiana Eka dari Enrekang.
Selamat menjadi abdi negara. Selamat menjadi staf yang menjaga demokrasi bukan dengan pidato, melainkan dengan ketelitian menulis nomor surat, kesabaran mengarsip berkas, dan integritas yang tak pernah kompromi meski hanya di balik meja kerja.
Jangan pernah merasa kecil. Karena gedung yang kokoh berdiri di atas fondasi yang tak pernah terlihat. Dan engkau, Radiana, adalah salah satu fondasi itu.
Tetaplah menjadi oranye yang menyala dari balik komputer. Jadilah tinta yang tak pernah pudar, kertas yang tak pernah robek, dan stempel yang selalu jujur membubuhkan tanda tangan negara.
Kuliah demi kuliah telah dilewati. Organisasi demi organisasi telah disinggahi. Dan kini, semesta berbisik pelan:
"Bekerjalah, Radiana. Bekerjalah dengan tenang dari balik meja. Karena keadilan tak selalu berteriak. Kadang, ia tumbuh dari berkas yang tersusun rapi, dari laporan yang ditulis jujur, dari seorang staf yang datang setiap pagi dengan hati yang bersih."
---
Selamat bekerja, Kader Oranye.
Selamat mengabdi sebagai ASN PNS di serambi Enrekang.
Dengan segala rindu pada masa kuliah, dan segala harap pada masa depan.
🍊
---









