Sabtu, 28 Februari 2026

“Timur Tengah di Ambang Ledakan: Menuju Perang Iran–AS atau Sekadar Uji Nyali Global?”

 








"Api memang menyala.

Tetapi semua pihak masih memegang selang air"



Timur Tengah hari ini seperti panggung besar yang lampunya menyala terang, tetapi tirainya belum sepenuhnya terbuka. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat, diperparah oleh dinamika keterlibatan Israel serta instabilitas kawasan yang juga melibatkan Pakistan dan Afghanistan. Untuk memahami potensi perang,bahkan kemungkinan eskalasi global,kita tidak cukup hanya membaca judul berita. Kita harus melihatnya dari berbagai sudut pandang sejarah, geopolitik, militer, ekonomi energi, hingga teori hubungan internasional.

Secara historis, konflik Iran–AS adalah akumulasi panjang luka politik sejak Revolusi Islam 1979. Sejak Shah yang pro-Barat digulingkan, hubungan kedua negara berubah dari sekutu menjadi rival ideologis. Krisis sandera di Teheran, sanksi ekonomi bertahun-tahun, tuduhan program nuklir, hingga pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani pada 2020 memperdalam jurang ketidakpercayaan. Bagi Iran, Amerika adalah simbol intervensi dan ancaman terhadap kedaulatan nasional. Sebaliknya, bagi Washington, Iran dipandang sebagai kekuatan revisionis yang berusaha mengubah keseimbangan kawasan melalui dukungan pada aktor-aktor bersenjata non-negara. Konflik ini bukan sekadar persoalan kebijakan luar negeri, melainkan pertarungan narasi dan legitimasi.

Dari sudut geopolitik regional, Israel menjadi variabel yang tak bisa diabaikan. Israel memandang ambisi strategis Iran,terutama terkait isu nuklir sebagai ancaman eksistensial. Jika benar terjadi serangan langsung ke wilayah strategis Iran, maka itu menandai perubahan dari perang bayangan menjadi konfrontasi terbuka. Selama ini Iran membangun lingkar pengaruh melalui Hizbullah di Lebanon, milisi di Irak dan Suriah, serta Houthi di Yaman. Strategi ini menciptakan daya tangkal asimetris. Iran tidak harus menyerang langsung untuk membalas. Maka, satu percikan di Teheran bisa memicu respons berantai di berbagai titik Timur Tengah. Risiko perang regional menjadi nyata, bukan karena deklarasi resmi, tetapi karena jejaring konflik yang saling terhubung.

Dari perspektif militer, perang Iran–AS tidak akan menyerupai invasi konvensional seperti Irak 2003. Amerika memiliki keunggulan teknologi, armada laut, dan sistem aliansi global. Namun Iran memiliki kemampuan perang asimetris, rudal balistik jarak menengah, drone tempur, serta potensi mengganggu Selat Hormuz.,jalur vital bagi distribusi minyak dunia. Perang, jika terjadi, kemungkinan berbentuk serangan presisi, operasi siber, sabotase infrastruktur energi, dan konflik laut terbatas. Artinya, meski skalanya mungkin “terkendali”, dampaknya akan terasa hingga pasar global.

Dari sudut ekonomi, inilah titik paling sensitif. Selat Hormuz adalah nadi energi dunia. Gangguan sekecil apa pun akan memicu lonjakan harga minyak, memperparah inflasi, dan mengguncang ekonomi negara-negara berkembang. Negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab berada dalam posisi dilematis menjaga hubungan keamanan dengan Amerika, tetapi juga berkepentingan mempertahankan stabilitas kawasan. Krisis energi juga bisa dimanfaatkan oleh produsen lain seperti Rusia, tetapi pada saat yang sama menciptakan ketidakpastian global yang berisiko bagi semua pihak.

Bagaimana dengan Pakistan dan Afghanistan? Ketegangan keduanya pada dasarnya berakar pada persoalan perbatasan dan kelompok militan. Secara langsung, konflik ini tidak otomatis menjadi bagian dari poros Iran–AS. Namun secara strategis, kawasan Asia Selatan dan Timur Tengah saling terhubung. Iran berbatasan dengan Afghanistan, sementara Pakistan memiliki relasi kompleks dengan Washington dan Beijing. Jika instabilitas meluas, kawasan bisa berubah menjadi sabuk krisis yang saling memperkuat. Dalam geopolitik, konflik jarang berdiri sendiri, ia sering menjadi simpul dalam jaringan ketegangan yang lebih besar.

Jika perang terbuka benar-benar terjadi, peta dukungan global kemungkinan akan terbentuk secara pragmatis. Amerika hampir pasti didukung Israel dan sekutu Eropa seperti Inggris, Prancis, serta Jerman, dengan tingkat keterlibatan yang bisa berbeda-beda. Iran berpotensi memperoleh dukungan politik atau logistik dari Rusia dan China, serta solidaritas dari sekutu regional seperti Suriah. Namun dunia hari ini tidak lagi terbelah dalam blok kaku seperti era Perang Dingin. Setiap negara akan menghitung biaya dan manfaat sebelum melangkah. Dukungan bisa bersifat diplomatik atau ekonomi, tanpa keterlibatan militer langsung.

Lalu, apakah ini akan berujung pada Perang Dunia? Secara teoritis, perang dunia terjadi ketika kekuatan besar terlibat langsung dan konflik meluas lintas kawasan. Hingga kini, semua aktor utama tampak masih menahan diri. Amerika tidak ingin terseret perang besar saat fokus strategisnya juga tertuju pada persaingan dengan China. Rusia memiliki kepentingan dan beban konflik lain. China mengutamakan stabilitas demi kelancaran perdagangan dan pasokan energi. Rasionalitas kepentingan masih menjadi rem yang menahan eskalasi total.

Dalam kacamata teori realisme hubungan internasional, semua negara bertindak demi keamanan dan kepentingan nasionalnya. Iran ingin memastikan kelangsungan rezim dan memperluas pengaruh regional. Amerika ingin menjaga keseimbangan kekuatan dan melindungi sekutunya. Israel ingin menjamin keamanan eksistensialnya. Semua bergerak dalam logika deterrence menciptakan ancaman agar lawan berpikir dua kali sebelum menyerang. Selama kalkulasi ini berjalan, perang total bisa dihindari, meski ketegangan tetap membara.

Kesimpulannya, dunia memang berada dalam fase rawan. Potensi perang regional nyata jika aksi dan reaksi terus meningkat. Namun potensi Perang Dunia masih berada pada level risiko, bukan keniscayaan. Api sudah menyala, dan percikannya menyebar ke banyak arah. Tetapi setiap kekuatan besar memahami satu hal: perang besar di era globalisasi bukan hanya tentang siapa yang menang, melainkan tentang siapa yang paling sedikit hancur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Timur Tengah di Ambang Ledakan: Menuju Perang Iran–AS atau Sekadar Uji Nyali Global?”

  "Api memang menyala. Tetapi semua pihak masih memegang selang air" Timur Tengah hari ini seperti panggung besar yang lampunya me...