“Agama adalah pemberi tanda dan ilmu pengetahuan adalah penjelas tentang tanda.”
Kalimat ini sederhana, tetapi ia seperti kunci yang membuka pintu perenungan panjang tentang puasa. Agama tidak selalu membeberkan seluruh rahasia; ia sering kali menghadirkan isyarat. Ilmu pengetahuan kemudian datang, bukan untuk menyaingi, tetapi untuk membaca dan menjelaskan tanda-tanda itu dengan bahasa rasional.Puasa adalah salah satu tanda itu.
Dalam Al-Qur'an, puasa ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ayat ini tidak mengatakan “agar kamu sehat”, “agar kamu kurus”, atau “agar kamu disiplin”, melainkan agar kamu bertakwa. Di sini agama memberi tanda,tujuan puasa adalah transformasi batin.Takwa dalam pengertian filosofis adalah kesadaran eksistensial—kesadaran bahwa manusia tidak absolut. Ia terbatas, rapuh, dan bergantung. Ketika lapar dan dahaga mengunjungi tubuh, manusia diingatkan bahwa ia bukan pusat semesta. Puasa memotong ilusi kedaulatan diri.Agama memberi tanda, kendalikan nafsu, maka kamu akan mengenali dirimu.
Puasa dalam Perspektif Filosofis
Secara filosofis, puasa adalah latihan kebebasan. Ironis memang. Dengan menahan diri, justru manusia menemukan kemerdekaan.Kita sering mengira kebebasan adalah mengikuti semua keinginan. Padahal, tanpa kendali, manusia diperbudak oleh dorongan instingtifnya sendiri. Puasa melatih kemampuan menunda kepuasan (delayed gratification). Dalam filsafat moral, inilah fondasi karakter.
Di masa lalu, masyarakat hidup dalam keterbatasan. Makan bukan perkara berlimpah, hiburan bukan tanpa batas. Disiplin hadir karena kondisi. Hari ini, di era digital dan konsumsi instan, manusia justru berlimpah namun gelisah. Segalanya tersedia, tetapi ketenangan menghilang.Puasa hadir sebagai koreksi zaman. Ia seperti rem di tengah laju peradaban yang terlalu cepat.
“Dalam lapar kita belajar cukup, dalam dahaga kita belajar syukur.”
Sains Menjelaskan Tanda
Jika agama memberi tanda, sains menjelaskan sebagian rahasianya.Penelitian modern tentang intermittent fasting menunjukkan bahwa periode tanpa asupan makanan memicu proses yang disebut autofagi,mekanisme pembersihan sel dari komponen yang rusak. Tubuh melakukan regenerasi. Sistem metabolisme diatur ulang. Sensitivitas insulin membaik.Ini bukan cocoklogi. Puasa dalam Islam memang memiliki aturan waktu tertentu: dari fajar hingga magrib. Secara fisiologis, rentang ini cukup untuk memicu perubahan metabolik tanpa membahayakan tubuh yang sehat.
Di masa lampau, manusia secara alami mengalami periode tanpa makan karena keterbatasan pangan. Tubuh beradaptasi dengan siklus lapar-kenyang. Kini, dengan akses makanan 24 jam, pola ini hilang. Penyakit metabolik meningkat: obesitas, diabetes, hipertensi.Agama telah lama memberi tanda melalui puasa. Ilmu pengetahuan baru belakangan menjelaskan sebagian hikmahnya.Namun penting ditegaskan,tujuan utama puasa bukan sekadar kesehatan fisik. Kesehatan adalah dampak, bukan orientasi. Takwa tetap inti.
Puasa dan Peradaban Lama vs Sekarang
Dahulu, ritme hidup lebih lambat. Interaksi sosial lebih hangat. Orang berbuka bersama keluarga besar, berbagi makanan sederhana. Nilai kebersamaan terasa alami.Kini, kita hidup dalam dunia notifikasi. Bahkan saat berbuka, sebagian mata lebih sibuk pada layar dibanding wajah orang terdekat. Puasa di zaman modern menjadi ujian ganda,menahan lapar sekaligus menahan distraksi.
Di sinilah relevansi kalimat tadi semakin nyata. Agama memberi tanda tentang pentingnya pengendalian diri. Ilmu psikologi modern menjelaskan bahwa kemampuan mengendalikan impuls berkorelasi dengan keberhasilan hidup, kestabilan emosi, dan kesehatan mental.Puasa melatih itu semua,jauh sebelum jurnal ilmiah membahasnya.
Dimensi Romantis Puasa
Ada sisi lain yang sering luput: puasa adalah dialog cinta antara manusia dan Tuhannya. Ia sunyi, personal, tak selalu terlihat. Seseorang bisa saja tampak berpuasa di hadapan manusia, tetapi hanya dirinya dan Tuhan yang tahu kualitasnya.
“Puasa adalah rahasia yang hanya dipahami oleh hati yang rindu.”
Dalam kesendirian menahan dahaga, ada percakapan batin yang tak terdengar. Ada doa yang lebih jujur. Ada air mata yang lebih tulus.Puasa mengajari kita bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki, tetapi tentang menahan diri demi sesuatu yang lebih tinggi.
Agama dan Ilmu: Dua Cahaya, Satu Arah
Konflik antara agama dan ilmu sering kali lahir dari kesalahpahaman. Agama berbicara dalam bahasa makna; ilmu berbicara dalam bahasa mekanisme. Agama memberi arah, ilmu memberi penjelasan.Seperti rambu di jalan raya: agama adalah papan petunjuknya, ilmu adalah peta dan teknologi navigasinya. Tanpa papan, kita kehilangan arah. Tanpa peta, kita kesulitan memahami detail perjalanan.Puasa menjadi contoh konkret, perintahnya datang dari wahyu, manfaat-manfaatnya sebagian dijelaskan oleh sains, dan maknanya diperdalam oleh filsafat.
Penutup: Puasa sebagai Kesadaran Baru
Pada akhirnya, puasa bukan sekadar menahan makan dan minum. Ia adalah proyek pembentukan manusia. Ia mendidik tubuh, menajamkan akal, dan melembutkan hati.
“Puasa bukan tentang mengosongkan perut, tetapi tentang mengisi jiwa.”
Di dunia yang serba cepat dan bising, puasa mengajarkan jeda. Dalam jeda itu, manusia menemukan kembali dirinya,rapuh tetapi bermakna, terbatas tetapi bernilai.Dan mungkin di situlah kita memahami sepenuhnya kalimat itu:
Agama memberi tanda. Ilmu pengetahuan menjelaskannya.
Puasa adalah salah satu tanda yang paling indah untuk dibaca dengan iman, dengan akal, dan dengan hati.
Penulis : K.H.A.Muliawan Agung,Sarjana Agama dan Master Agama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar